Kamis, 26 Februari 2015

Karyaku Arus



ARUS
Cerpen Fybria Rahma R

Segera aku menolehkan wajah ke belakang. Ku lirik jam tangan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12.45 siang, pantas makhluk itu belum mati juga. Eh, ternyata listriknya mati. Hanya lantunan lagu sedih yang selalu menemani malam-malamku, mengingat duka nestapa yang tak kian berujung. Masih teringat dengan gamblang peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu. Setiap mengingatnya bathin ini lirih dan terjadilah danau di mata. Padahal ku pikir dia benar-benar baik padaku tapi kenyataannya tidak, tak disangka semua ini terjadi. Terkadang berpikir, apakah ada yang salah dengan ku? atau aku yang kurang baik terhadapnya, sehingga ia begitu.
Awan datang melayang perlahan. Silir-semilir angin berhembus. Dalam redup cahaya mentari. Hahaha... ini aneh tapi nyata. Awalnya kita tak pernah kenal, tak pernah tahu masing-masing pribadi. Namun, Tuhan selalu punya rencana dan Tuhan selalu tahu apa yang ada di balik tabir kehidupan ini. Sehingga kita dipertemukan dan sejak pertemuan itu, aku dan Rere mulai bersahabat. Kami bertemu tanpa disengaja dan kami saling mencoba akrab satu sama lain, saling mengerti dan menjalani kehidupan yang penuh misteri ini. Sekarang aku dan Rere kuliah di tempat yang sama dan jurusan kami juga sama. Kami juga sama-sama mengontrak di sebuah rumah. Sudah tiga tahun persahabatanku dengan Rere berjalan. Susah senang dilalui bersama.
Sekarang umurku dah 18 tahun. Awal mengenalnya, kelihatannya dia anak yang baik. Sekarang aku malah heran melihatnya. Semakin hari sikapnya semakin gak karuan. Setelah lama kami berteman, aku baru tau belangnya sekarang. Hatiku semakin tertekan sejak tinggal sekamar dengannya. Dia seenaknya saja menghardik-hardikku, emang dia siapa? Padahal dia bukan majikanku. Mengapa ia sangat keterlaluan? Aku capek dengan kelakuannya. Entah apa salahku? hingga ia memperlakukanku seperti pembantu. Setiap makan pasti piringnya terus ditumpuk. Aku yang kerap kali mencucinya. Emang aku pembantunya?
Selesai menyapu kamar, gak lama kemudian dia menyapu ulang. Maksudnya apa coba? Waktu dulu kelihatannya ia rajin dan bersih, eh ternyata sekarang malah sebaliknya. Dia sok rajin dan sok bersih. Aku gak tahan, gak tau pada siapa akan kukatakan hati yang pilu ini, terpaksa aku telepon bibi. Sebenarnya aku gak mau menceritakan masalah ini sama siapapun, tapi mau gimana lagi hati ini dah serasa mau meledak.
“Bi, Rere itu jarang cuci piring, aku yang sering cuci. Piring dibiarkannya menumpuk seember, karena aku gak tahan lihat piring menumpuk di depan mata, terpaksa aku terus yang turun tangan.”
“Kalau Rina mau makan, cuci aja piring satu buat makan sendiri.”
Akhirnya ku turuti nasehat bibi. Aku cuci satu piring, setelah itu aku mandi. Sehabis mandi ku lihat Rere lagi makan, ternyata ia makan dengan piring yang kucuci tadi. Aku mau tahu, apakah selesai makan dia bakal cuci tuh piring? Eh ternyata malah ditarok lagi dalam ember. Aku masih sangat sabar melihat kejadian itu.
Beberapa hari kemudian ada lagi problem. Setrikaku di pinjam teman yang berada di kamar sebelah. Rere mau nyetrika, terus dia nanya, eh bukannya nanya dengan baik, malah dengan nada tinggi.
“Mana setrika Na?” kayak ia saja yang punya setrika, batinku.
“Di kamar sebelah.”
“Ambillah, siapa yang bawa kesana?” bentak Rere. Karena aku masih sabar, ya... ku ambilkan saja. Banyak banget permasalahan yang terjadi antara aku dengannya.
Saat terik mentari membakar bumi, tepat jam 11.45 siang. Aku berada di kamar sebelah sembari belajar. Karena besok mau ujian akhir semester. Sebelum belajar aku memasak nasi dengan magic dan kunyalakan obat nyamuk listrik. Sudah satu jam berlalu, karena sangat fokus belajar aku baru tersadar bahwa nyamuknya belum musnah. Aku heran, terus ku palingkan muka melihat keadaan di belakang, eh... ternyata listriknya mati. Entah siapa yang menggerakkan kaki ini untuk berjalan keluar? Sungguh tak ku duga, ternyata kontak arus listriknya copot dan malahan ada yang mengisi baterai Handphone. Rasanya jantung ini mau copot. Sekonyong-konyong aku terpana melihat semua itu. Mulut ini terbungkam. Duka nestapa menyelimutiku. Ingin semua bisa berubah. Tapi, itu hanya ilusi. Akhirnya, kesabaranku dengan Rere telah mencapai puncaknya. Luka hati telah menekan, mendesak. Luka hati bergerak sampai ke puncak. Derita hidup terasa mengepungku.
Berjuta pertanyaan berada dalam benak. Mujur saja gak ada yang rusak di kamar temanku. Dania adalah temanku sebelah kamar, ia lagi pulang kampung. Aku menumpang dikamarnya, jadi aku harus menjaga kamar serta isinya. Ia anak yang baik, mau saja ninggalin kunci kamarnya padaku, agar aku bisa tidur dan belajar dengan fokus serta nyaman. Aku mengenal Dania sejak pertama kami serumah. Ia juga kuliah di tempat kami.
Orang-orang bilang “Orang sabar itu disayang tuhan, tapi kalau terlampau sabar di tangan kawan.” Karena kesabaranku tak dapat dibendung lagi, maka kulabraklah Rere ke kamarnya. Sebanarnya aku sangat takut, tapi mesti gimana lagi, daripada aku semakin tertekan. Tanganku pun mulai dingin, jantungku berdegup kencang, rasa gugup mulai menyerangku dan dengan suara yang gemetar dan dengan nada yang lumayan tinggi aku bertanya.
“Apa maksudmu mencopot kontak listrik kamar Dania?”
“Maksudku? Ya... aku mau mengisi baterai Hpku donk...” jawab Rere dengan nada yang sombonk.
“Kontak mu khan ada di kamar mu, yang diluar ini khan arus ke kamar Dania, lagian itu punya Dania.”
“Siapa bilang itu punya Dania? Itu khan punya Ibu.”
“Iya, aku tau itu punya Ibu karena ini rumah Ibu, kita khan udah ada kontak per kamar, ngapain kamu pakai kontak untuk kamar Dania? Aku tau kontak kamar Dania arusnya dari luar, tapi jangan seenaknya donk kamu copot untuk kepentinganmu. Lagian belum pernah orang lain yang mengganggu kontak ini. Kontak ini haknya Dania,” jelasku.
“Lihatlah, kontak ku tu dah penuh, kalo gitu aku donk yang jadi orang pertama mencopot kontak itu...” jawabnya lagi dengan nada sombong.
“Kalau kamu mau numpang, bilang aja, lagian kontak punyamu gak ada yang ganggu. Seandainya magic dan obat nyamuk milik Dania rusak gimana?”
“Haaa... Sorry ya... aku gak bakalan rugi kok kalo gak berteman sama kamu, malahan aku bakalan beruntung kalo gak berteman sama kamu. Berapa harganya? tenang aja, biar nanti kuganti.” Tuturnya, lagi-lagi dengan nada yang sok dan sombonk.
“Gayamu okelah, hutang pulsa kamu aja belum kamu bayar...” ujarku lagi. “Nanti ku bayar, duitku duit gede, ntar kamu gak adapula kembaliannya,” ketus Rere lagi.
Karena aku gak sanggup lagi melawan ucapannya yang gak mau kalah itu, aku pun berlalu dari hadapannya. Nyesek banget rasanya ni dada.
Aku merenung, mungkin aku terlalu gegabah melabraknya, ujarku dalam hati. Ternyata orang seperti dia, tidak bisa dilawan, apalagi untuk disadarkan. Jadinya, aku sekarang makin makan hati. Secercah harapan yang tadinya ada, sekarang malah hilang hanya dalam hitungan beberapa menit. Terpikir olehku, ngapain juga mengeluarkan suara dengan sia-sia? Hmm... apa mau dikata, semuanya dah terjadi. Padahal hanya gara-gara hal sepele, tetapi karena kesabaran yang tak dapat lagi dibendung semuanya pun meledak.
Gemersik dedaunan bernyanyi. Melantunkan suara syahdu. Waktu telah berjalan, jam dinding menunjukkan pukul 14.00, Rere pun telah berangkat ke kampus. Langit tampak biru gemilang. Tiga jam kemudian, ia pulang dari kampus dengan berjalan melenggak-lenggok. Bagaikan itik pulang petang. Eh, herannya dia malah sakit-sakitan di ruang tamu Ibu. Ia kejang-kejang bagaikan cacing kepanasan sembari menangis, menjerit-jerit dan berteriak “Re takut, Re sakit.” Sesosok tubuh manusia datang menghampiriku, ternyata anak Ibu kontrakan, ia mengatakan kepadaku bahwa Rere sakit. Aku pun pergi melihatnya.
“Ada masalah apa kamu dengan Rere?” tanya ibu.
“Gak ada buk, cuma gara-gara masalah sepele Bu.” Ku jelaskan pada Ibu apa yang telah terjadi tadi siang. Aku ragu, apakah ia betul-betul sakit atau hanya pura-pura? Ku masih bersabar walau hujan luka hati terus jatuh menitik tiada henti.
Ia terus menjerit, menangis dan berteriak sembari memegang handphonenya. Ku lihat ia lagi SMSan, tapi gak tau ma siapa. Eh... gak lama kemudian ternyata pacarnya datang ke rumah. Aku biasa aja, gak takut. Lima belas menit kemudian, teman-temannya pun datang serombongan yang jumlahnya sepuluh orang. Melihat temannya datang, Vika yang berada di kamar sebelah menyuruhku agar kembali ke kamarku. Tapi aku gak mau karena aku gak bersalah. Ngapain harus menghindar. Aku pun tetap berada di ruang tamu Ibu.
Setelah semua temannya duduk, mereka bertanya kepadaku apa yang telah terjadi pada Rere. Aku seperti disidang oleh mereka. Apa yang mereka tanya, ku jawab langsung dan ku beri penjelasan. Mereka seakan-akan menyalahkanku, mereka beranggapan aku yang jahat pada Rere. Hufft... ku dah pasrah dengan semua ini. Terserah orang mau bilang apa. Yang terpenting hanya aku dan tuhanlah yang tahu.
Beberapa hari sesudah itu terdengar kabar, bahwa peristiwa yang telah terjadi kemarin ternyata telah terdengar oleh teman-teman lainnnya di kampus. Panas rasanya hati ini seakan-akan terbakar oleh api, tak kuasa mendengarnya. Mau gak mau, suka tidak suka aku harus mengambil pilihan yang sangat sukar untuk dipilih. Huft... daripada aku semakin tersiksa, finally aku pun berhenti kuliah. Mau jadi apa aku? Kalau tidak melanjutkan sekolah, kerja pake tenaga juga gak bakal kuat. Badan sering sakit-sakitan Mau dibawa kemana tubuh ini? Aku juga ingin menjadi orang sukses, membahagiakan orang tua, dan membuat mereka merasa bangga. Keputusan ini terpaksa kuambil karena aku dah gak mampu dan gak sanggup lagi.
Aku pun meminta kepada orang tuaku untuk kuliah di tempat lain dan memulainya lagi dari awal. Aku berjanji kepada orang tuaku bahwa aku ingin bersungguh-sungguh kuliah. Ku harap mereka masih mau untuk menyekolahkanku. Aku gak bilang pada mereka bahwa aku ada masalah. Aku hanya bilang kalau aku gak mau kuliah di sini karena aku gak suka sama jurusannya. Mudah-mudahan orang tuaku mau menerima penjelasanku. Aku tahu, telah banyak uang mereka habis untukku selama dua semester itu, tapi aku gak tahan lagi berada di sana. Tampaknya kejadian itu sudah tersebar kemana-mana. Aku merasa, tak hanya dengan satu orang aku di benci, tapi banyak orang. Gak tau mau ditarok dimana muka ini. Makanya, lebih baik pindah kuliah saja ke universitas lain. Syukurlah mereka masih mau menyekolahkanku. Aku gak bakal mengecewakan mereka lagi.
SELESAI

Cerpen Belum Sempat



BELUM SEMPAT
Cerpen  Fybria Rahma R

Aku tak tahu dimana ganggang pintu itu lagi. Padahal dulu aku sering membuka dan menutupnya. Aku terus meraba-raba dinding dan mencoba mendekat ke arah pintu itu. Pandanganku makin gelap. Apa yang terjadi denganku? Kenapa sekarang aku tak bisa melewatinya? Dulu aku selalu lalu-lalang di sana. Cahaya yang terang dulu kini entah kemana. Dunia telah hilang dari hadapanku seiring hilangnya harapan.
          Tak ada lagi tinta untuk menulis setiap kejadian itu. Meskipun beberapa waktu lalu tinta itu selalu mengukir setiap kejadian dalam hidupku. Ayah, aku tak tahu lagi... Ayah, dari mana akan ku mulai kisah ini? Apakah kau dengarkan ku Ayah? Mengapa ayah? Mengapa bisa terjadi? Hati ini terus-menerus menggerutu.
          Sekonyong-konyong aku terbangun. Mimpi itu mengingatkanku kembali pada masa lalu.
“Dimana ganggang yang dulu? Dimana? Oh... Tuhan... Berikan aku ganggang yang dulu. Aku tak mau yang baru, aku maunya yang dulu.” Hati ini terus merintih. Aku tak kuasa menahannya.
“Nak, di setiap kejadian pasti ada hikmahnya dan kamu harus ikhlas.” Aku terhening mendengar kata-kata yang pernah dilontarkan Ibu dulu. Ku bangunkan suamiku dan menceritakan mimpi itu.
“Jangan terlalu dipikirkan Sri, ntar kamu malah makin drop,” ujar suamiku. Perlahan-lahan aku mulai mencampakkan ingatan yang menggangguku.
          Aku pun menjalani aktivitas seperti biasanya. Esok harinya terulang lagi mimpi yang sama, tetapi kali ini aku menggerutu pada Ibu. Hidup ini memang penuh misteri. Aku selalu mencoba mengerti. Tuhan selalu punya rencana yang tidak sedikitpun diketahui manusia.
          Kembalinya suamiku dari kantor, kami makan malam di rumah. Mendadak sesudah makan malam, suamiku sakit perut dan langsung ke kamar mandi. Tak lama setelah itu sontak mati lampu dan aku sangat kaget. Lima belas menit kemudian ia belum juga keluar dari kamar mandi.
          Aku mulai takut. Siapakah yang makan malam bersamaku tadi? Suamiku atau bukan? Kucari senter, lalu ku hidupkan. Kulihat ke kamar mandi ternyata tak ada orang. Kuhadapkan cahaya senter ke tiap sudut rumah, tetap juga tak ada. Hampir jantungku tak berdegup lagi gara-gara ada sesuatu yang jatuh dihadapanku. Aku terus berteriak memanggil-manggil suamiku. Aku pun panik dan putus asa. Apa yang terjadi pada suamiku? Kurasa yang makan malam dengan ku tadi memang suamiku, bukan orang lain.
Surprise... Happy birthday istriku tercinta. I love you so much...” suara itu nyata dan jelas ku dengar.
          Seseorang muncul dengan badan yang kekar di balik kegelapan. Dialah suamiku. Orang yang selalu ada dikala aku sedih dan susah. Dia yang selalu menemani hari-hariku. Mendengar kata-kata itu hatiku serasa di singgasana. Istana cinta yang dirajut suamiku makin kokoh terasa. Aku tak ingat bahwa ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku. Tepatnya 4 Desember 2004, suamiku memberikan kue ulang tahun berbentuk love yang di dalamnya terdapat tulisan happy birthday sayang, I love you. Dia juga memberiku sekuntum mawar putih.
“Cintaku padamu suci, cintaku padamu tulus karena Allah. Maaf... aku telah mengagetkanmu...” ujar suamiku.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Mulut ini tiba-tiba membungkam. Bersuara tapi tak berbunyi. Ku tatap suamiku sembari berkata “Engkau adalah salah satu pemberian Tuhan yang terindah dalam hidupku,” hatiku dan hatinya telah menyatu. Terima kasih Tuhan.
Jendela itu memberikan cahaya, api itu mengahangatkan jiwa, penguin itu membuatku bahagia. Suamiku telah menjadi pelengkap dalam hidupku. Ia melengkapi semuanya, sehingga tak ada satupun yang membuatku ragu untuk selalu berada di sampingnya. Apapun yang dikatakannya, apapun yang dimarahkannya, semua itu adalah karenaku dan untukku. Jauh di relung hati ini aku sangat mencintainya.
Berawal dari ujian komprehensif, aku menunggu suamiku keluar dari ruang ujian. Tok...tok...tok... terdengar bunyi langkah yang mendekat ke arah ku. Aku mulai deg-degan.
“Sri... Akhirnya aku menggandeng gelar Dr.”
“Alhamdulillah Mas...“
Tahun 2009 suamiku wisuda S-3 di salah satu Universitas Negeri kota Padang. Aku begitu kagum dengannya. Program S-1, S-2, dan S-3 nya diselesaikan selama 6,5 Tahun. Aku juga menyelesaikan studi S-2 ku selama 1,5 Tahun.
Saat wisuda ternyata suamiku lulus dengan predikat yang sangat membanggakan. Aku sungguh bahagia mendengarnya... Hati ini bagaikan pelangi dengan berbagai macam warna mejikuhibiniu yang sangat indah dipandang mata. Aku tak kuasa menahan air mata ini. Air itu jatuh deras dari kelopak mataku.
“Kenapa kamu menangis Sri?”
“Gak ada Mas, aku bahagia.”
Dulu aku tidak boleh menikah terlalu cepat di usia muda belia. Jarak umurku dan suamiku berkisar 3 Tahun. Sebab ia sudah kerja, ia langsung melamar ku setamat SMA.
“Apa kamu yakin akan menikah secepat itu Sri?” tanya ayah.
“Insya Allah yah...” jawabku.
“Jangan terlalu cepat mengambil keputusan Sri, Kamu itu masih sangat muda. Umurmu saja baru 18 Tahun,” sambung ibu.
“Iya Bu... Sri tahu, tetapi mas Andreas kelihatannya orang yang baik Bu, dia serius ingin menjadikanku pendamping hidupnya untuk selamanya.”
“Ya sudah, terserah kamu sajalah.” Gerutu ibu.
Ayah sempat mengurungku di kamar selama lima hari. Mereka hanya memberiku makan satu kali sehari dan mereka tidak memperbolehkanku memegang laptop dan HP. Semua barang-barangku disita ayah dan ibu. Namun, keputusan yang kuambil tetap ku pegang teguh. Sedikitpun tidak mengubah prinsipku untuk menerima lamaran Mas Andreas. Ibu dan Ayah takut menerima lamaran Mas Andreas karena mereka berasal dari keluarga kaya dan bergelar. Tidak sembarang orang yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Aku sempat putus asa karena mengetahui kabar itu. Aku mulai mengerti dengan penjelasan-penjelasan yang dilontarkan Mas Andre, meskipun aku masih ragu. Apakah keluarganya bisa menerimaku? Saat dia datang melamarku, dia tidak langsung meminta jawaban. Ia memberi waktu selama seminggu. Setelah dihukum ayah. Aku diajak Mas Andre ke rumahnya untuk mengetahui kondisi keluarganya. Setibanya di sana, ternyata memang benar bahwa keluarganya sangat terbuka. Walaupun mereka dari kalangan kaya raya, tetapi mereka mudah bersosialisai dengan siapa saja. Mereka menganggap semua orang itu sama derajatnya di hadapan Tuhan. Kembalinya ke rumah, aku berbicara pada Ibu bahwa keluarganya sangat baik padaku.
Ibu dan Ayah mulai sedikit lega setelah mendengar kabar itu, walaupun mereka kelihantannya masih menyimpan rasa curiga terhadap keluarga Mas Andre. Setelah seminggu berlalu, Mas Andre datang lagi ke rumah bersama orang tuanya untuk meminta jawaban lamaran kemarin. Semua pilihan dibebaskan oleh Ibu dan Ayah kepadaku. Semua terserahku. Akhirnya ku terima lamaran tersebut.
Pada saat wisuda S-1 Mas Andreas aku mengajak orang tuaku untuk pergi ke acara tersebut. Supaya Ibu dan Ayah juga saling bertemu dan berkenalan dengan keluarga Mas Andre. Aku berusaha membuat hubungan mereka menjadi lebih akrab. Hujan berganti panas. Muka yang muram kembali cerah. Siangpun berganti malam. Malam ini keluargaku dan keluarga Mas Andre telah menentukan tanggal pernikahan kami.
Seminggu berlalu, sepulang mengantarkan undangan “Brak!!!” tiba-tiba terdengar bunyi yang sayup-sayup sampai ke rumah. Di perempatan jalan raya ternyata telah terjadi kecelakaan mobil sedan dan Fuso. Fuso dari ketinggian empat kaki meluncur dengan kecepatan 100km/jam. Pengemudi fuso ini diduga mabuk berat saat berkendara. Aku berlari secepat-cepatnya tanpa sandal, tak terasa lagi sakitnya kaki karena menginjak kerikil. Aku melihat orang tuaku bersimbah darah. Darahnya membasahi jalan. Nyawanya tak dapat tertolong lagi. Hanya dengan hitungan detik semua telah berakhir dengan sekejap. Kisah ini sungguh membuat hatiku gundah-gulana. Bagaimana aku akan melangsungkan pernikahan? Kalau keadaan hatiku seperti ini. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah secepat itu Tuhan mencabut nyawa umatnya? Ya... Tuhan... Kenapa tepat di depan mataku kau ambil nyawa mereka?
Undangan sudah tersebar kemana-mana. Baju pernikahan sudah dipesan juga. Ditambah lagi dengan gedung dan katering sudah dipersiapkan. Semua itu sangat membuatku stres. Tetapi aku harus profesional, aku harus tetap menjalani hidup. Akhirnya pesta itu tetap berlangsung dengan keadaan yang penuh duka.
Kenapa ayah dan ibu meninggalkanku? Aku tak sanggup. Tanpa kusadari suamiku selalu berusaha membuatku tersenyum. Tapi hanya uraian air mata yang menemaniku setiap hari. Dokter pernah bilang bahwa jangan terus-menerus bersedih hingga menahan air mata dan sering mengeluarkan air mata. Air mata itu panas dan asin. Kalau selalu menangis nanti mata itu rusak. Hati ini berbanding terbalik dengan perkataan dokter. Aku terpeleset di ruang tamu. Kepalaku terbentur ke sudut meja. Mujur saja tidak berdarah, aku merasakan pusing yang yang sangat hebat dan mata ini perih terasa. Aku langsung berdiri, aku melihat pintu. Pintu itu terlihat buram, mulai tak tampak. Ku tatap ke sana kemari pun tak kelihatan. Semua menjadi kelam. Setelah 7 tahun pernikahanku dengannya, sekarang malah begini kejadiannya.
Padahal aku dulu bisa melihat semuanya di dunia, melihat semua keindahan dunia. Tapi sekarang apa? Aku malah tak bisa melihat apapun. Aku tak bisa lagi melayani suamiku, aku tak bisa memasakkannya lagi, aku tak bisa membahagiakannya, aku tak bisa memberinya minum. Aku terus jadi beban bagi suamiku. Aku selalu melemparkan kata-kata cerai dan makian kepadanya, tapi ia pura-pura tak mendengarnya.
Suamiku terus mencari donor mata untukku. Akhirnya ada dan aku dioperasi. Tapi hasilnya gagal. Aku tak bisa lagi melihat wajah suamiku. Lima tahun berlalu, sekarang aku lupa bagaimana wajahnya. Bagaimana raut wajahnya, bagaimana rambutnya, bagaimana postur tubuhnya? Aku malah membuatnya semakin terluka dengan keadaanku. Aku memang tidak berguna.
Peristiwa itu masih sangat jelas olehku sampai saat ini. Kemana akan kucari ganggang pintu tersebut? Kemana? Aku tak bisa lagi mencarinya, aku tak bisa lagi melihatnya, aku tak bisa lagi melewatinya... Mimpi itu selalu hadir dalam hidupku dan selalu mengingatkanku pada peristiwa dulu. Panas kembali berganti hujan. Cahaya terang kembali kelam. Wajah kian suram. Tak tahu lagi mana yang siang dan malam. Semua menjadi malam buta bagiku. Lantunan lagu Agnes Monica yang berjudul Rapuh selalu menemani hari-hariku “Belum sempat ku membagi kebahagiaanku, belum sempat ku membuat dia tersenyum, haruskah ku kehilangan? Ku rapuh tanpa dia, seperti kehilangan hara.”

SELESAI