Cerpen Fybria
Rahma R
Segera aku menolehkan wajah ke belakang.
Ku lirik jam tangan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12.45 siang, pantas
makhluk itu belum mati juga. Eh, ternyata listriknya mati. Hanya lantunan lagu
sedih yang selalu menemani malam-malamku, mengingat duka nestapa yang tak kian berujung.
Masih teringat dengan gamblang peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu. Setiap
mengingatnya bathin ini lirih dan terjadilah danau di mata. Padahal ku pikir
dia benar-benar baik padaku tapi kenyataannya tidak, tak disangka semua ini
terjadi. Terkadang berpikir, apakah ada yang salah dengan ku? atau aku yang
kurang baik terhadapnya, sehingga ia begitu.
Awan datang melayang perlahan.
Silir-semilir angin berhembus. Dalam redup cahaya mentari. Hahaha... ini aneh
tapi nyata. Awalnya kita tak pernah kenal, tak pernah tahu masing-masing pribadi.
Namun, Tuhan selalu punya rencana dan Tuhan selalu tahu apa yang ada di balik
tabir kehidupan ini. Sehingga kita dipertemukan dan sejak pertemuan itu, aku
dan Rere mulai bersahabat. Kami bertemu tanpa disengaja dan kami saling mencoba
akrab satu sama lain, saling mengerti dan menjalani kehidupan yang penuh
misteri ini. Sekarang aku dan Rere kuliah di tempat yang sama dan jurusan kami juga
sama. Kami juga sama-sama mengontrak di sebuah rumah. Sudah tiga tahun
persahabatanku dengan Rere berjalan. Susah senang dilalui bersama.
Sekarang umurku dah 18 tahun. Awal mengenalnya,
kelihatannya dia anak yang baik. Sekarang aku malah heran melihatnya. Semakin hari
sikapnya semakin gak karuan. Setelah lama kami berteman, aku baru tau belangnya
sekarang. Hatiku semakin tertekan sejak tinggal sekamar dengannya. Dia
seenaknya saja menghardik-hardikku, emang dia siapa? Padahal dia bukan
majikanku. Mengapa ia sangat keterlaluan? Aku capek dengan kelakuannya. Entah
apa salahku? hingga ia memperlakukanku seperti pembantu. Setiap makan pasti
piringnya terus ditumpuk. Aku yang kerap kali mencucinya. Emang aku pembantunya?
Selesai menyapu kamar, gak lama kemudian
dia menyapu ulang. Maksudnya apa coba? Waktu dulu kelihatannya ia rajin dan
bersih, eh ternyata sekarang malah sebaliknya. Dia sok rajin dan sok bersih. Aku
gak tahan, gak tau pada siapa akan kukatakan hati yang pilu ini, terpaksa aku telepon
bibi. Sebenarnya aku gak mau menceritakan masalah ini sama siapapun, tapi mau
gimana lagi hati ini dah serasa mau meledak.
“Bi, Rere itu jarang cuci piring, aku
yang sering cuci. Piring dibiarkannya menumpuk seember, karena aku gak tahan
lihat piring menumpuk di depan mata, terpaksa aku terus yang turun tangan.”
“Kalau Rina mau makan, cuci aja piring
satu buat makan sendiri.”
Akhirnya ku turuti nasehat bibi. Aku
cuci satu piring, setelah itu aku mandi. Sehabis mandi ku lihat Rere lagi makan,
ternyata ia makan dengan piring yang kucuci tadi. Aku mau tahu, apakah selesai
makan dia bakal cuci tuh piring? Eh ternyata malah ditarok lagi dalam ember.
Aku masih sangat sabar melihat kejadian itu.
Beberapa hari kemudian ada lagi problem. Setrikaku di pinjam teman yang
berada di kamar sebelah. Rere mau nyetrika, terus dia nanya, eh bukannya nanya
dengan baik, malah dengan nada tinggi.
“Mana setrika Na?” kayak ia saja yang
punya setrika, batinku.
“Di kamar sebelah.”
“Ambillah, siapa yang bawa kesana?” bentak
Rere. Karena aku masih sabar, ya... ku ambilkan saja. Banyak banget
permasalahan yang terjadi antara aku dengannya.
Saat terik mentari membakar bumi, tepat
jam 11.45 siang. Aku berada di kamar sebelah sembari belajar. Karena besok mau ujian
akhir semester. Sebelum belajar aku memasak nasi dengan magic dan kunyalakan obat nyamuk listrik. Sudah satu jam berlalu,
karena sangat fokus belajar aku baru tersadar bahwa nyamuknya belum musnah. Aku
heran, terus ku palingkan muka melihat keadaan di belakang, eh... ternyata
listriknya mati. Entah siapa yang menggerakkan kaki ini untuk berjalan keluar? Sungguh
tak ku duga, ternyata kontak arus listriknya copot dan malahan ada yang mengisi
baterai Handphone. Rasanya jantung
ini mau copot. Sekonyong-konyong aku terpana melihat semua itu. Mulut ini
terbungkam. Duka nestapa menyelimutiku. Ingin semua bisa berubah. Tapi, itu
hanya ilusi. Akhirnya, kesabaranku dengan Rere telah mencapai puncaknya. Luka
hati telah menekan, mendesak. Luka hati bergerak sampai ke puncak. Derita hidup
terasa mengepungku.
Berjuta pertanyaan berada dalam benak.
Mujur saja gak ada yang rusak di kamar temanku. Dania adalah temanku sebelah
kamar, ia lagi pulang kampung. Aku menumpang dikamarnya, jadi aku harus menjaga
kamar serta isinya. Ia anak yang baik, mau saja ninggalin kunci kamarnya
padaku, agar aku bisa tidur dan belajar dengan fokus serta nyaman. Aku mengenal
Dania sejak pertama kami serumah. Ia juga kuliah di tempat kami.
Orang-orang bilang “Orang sabar itu
disayang tuhan, tapi kalau terlampau sabar di tangan kawan.” Karena kesabaranku
tak dapat dibendung lagi, maka kulabraklah Rere ke kamarnya. Sebanarnya aku
sangat takut, tapi mesti gimana lagi, daripada aku semakin tertekan. Tanganku
pun mulai dingin, jantungku berdegup kencang, rasa gugup mulai menyerangku dan
dengan suara yang gemetar dan dengan nada yang lumayan tinggi aku bertanya.
“Apa maksudmu mencopot kontak listrik
kamar Dania?”
“Maksudku? Ya... aku mau mengisi
baterai Hpku donk...” jawab Rere dengan nada yang sombonk.
“Kontak mu khan ada di kamar mu, yang
diluar ini khan arus ke kamar Dania, lagian itu punya Dania.”
“Siapa bilang itu punya Dania? Itu khan
punya Ibu.”
“Iya, aku tau itu punya Ibu karena ini
rumah Ibu, kita khan udah ada kontak per kamar, ngapain kamu pakai kontak untuk
kamar Dania? Aku tau kontak kamar Dania arusnya dari luar, tapi jangan
seenaknya donk kamu copot untuk kepentinganmu. Lagian belum pernah orang lain
yang mengganggu kontak ini. Kontak ini haknya Dania,” jelasku.
“Lihatlah, kontak ku tu dah penuh, kalo
gitu aku donk yang jadi orang pertama mencopot kontak itu...” jawabnya lagi dengan
nada sombong.
“Kalau kamu mau numpang, bilang aja,
lagian kontak punyamu gak ada yang ganggu. Seandainya magic dan obat nyamuk milik Dania rusak gimana?”
“Haaa... Sorry ya... aku gak bakalan
rugi kok kalo gak berteman sama kamu, malahan aku bakalan beruntung kalo gak
berteman sama kamu. Berapa harganya? tenang aja, biar nanti kuganti.” Tuturnya,
lagi-lagi dengan nada yang sok dan sombonk.
“Gayamu okelah, hutang pulsa kamu aja
belum kamu bayar...” ujarku lagi. “Nanti ku bayar, duitku duit gede, ntar kamu
gak adapula kembaliannya,” ketus Rere lagi.
Karena aku gak sanggup lagi melawan
ucapannya yang gak mau kalah itu, aku pun berlalu dari hadapannya. Nyesek
banget rasanya ni dada.
Aku merenung, mungkin aku terlalu
gegabah melabraknya, ujarku dalam hati. Ternyata orang seperti dia, tidak bisa
dilawan, apalagi untuk disadarkan. Jadinya, aku sekarang makin makan hati. Secercah
harapan yang tadinya ada, sekarang malah hilang hanya dalam hitungan beberapa
menit. Terpikir olehku, ngapain juga mengeluarkan suara dengan sia-sia? Hmm...
apa mau dikata, semuanya dah terjadi. Padahal hanya gara-gara hal sepele,
tetapi karena kesabaran yang tak dapat lagi dibendung semuanya pun meledak.
Gemersik dedaunan bernyanyi.
Melantunkan suara syahdu. Waktu telah berjalan, jam dinding menunjukkan pukul
14.00, Rere pun telah berangkat ke kampus. Langit tampak biru gemilang. Tiga
jam kemudian, ia pulang dari kampus dengan berjalan melenggak-lenggok. Bagaikan
itik pulang petang. Eh, herannya dia malah sakit-sakitan di ruang tamu Ibu. Ia
kejang-kejang bagaikan cacing kepanasan sembari menangis, menjerit-jerit dan
berteriak “Re takut, Re sakit.” Sesosok tubuh manusia datang menghampiriku,
ternyata anak Ibu kontrakan, ia mengatakan kepadaku bahwa Rere sakit. Aku pun
pergi melihatnya.
“Ada masalah apa kamu dengan Rere?”
tanya ibu.
“Gak ada buk, cuma gara-gara masalah
sepele Bu.” Ku jelaskan pada Ibu apa yang telah terjadi tadi siang. Aku ragu, apakah
ia betul-betul sakit atau hanya pura-pura? Ku masih bersabar walau hujan luka
hati terus jatuh menitik tiada henti.
Ia terus menjerit, menangis dan
berteriak sembari memegang handphonenya.
Ku lihat ia lagi SMSan, tapi gak tau ma siapa. Eh... gak lama kemudian ternyata
pacarnya datang ke rumah. Aku biasa aja, gak takut. Lima belas menit kemudian,
teman-temannya pun datang serombongan yang jumlahnya sepuluh orang. Melihat
temannya datang, Vika yang berada di kamar sebelah menyuruhku agar kembali ke
kamarku. Tapi aku gak mau karena aku gak bersalah. Ngapain harus menghindar.
Aku pun tetap berada di ruang tamu Ibu.
Setelah semua temannya duduk, mereka
bertanya kepadaku apa yang telah terjadi pada Rere. Aku seperti disidang oleh
mereka. Apa yang
mereka tanya, ku jawab langsung dan ku beri penjelasan. Mereka seakan-akan
menyalahkanku, mereka beranggapan aku yang jahat pada Rere. Hufft... ku dah pasrah
dengan semua ini. Terserah orang mau bilang apa. Yang terpenting hanya aku dan
tuhanlah yang tahu.
Beberapa hari sesudah itu terdengar
kabar, bahwa peristiwa yang telah terjadi kemarin ternyata telah terdengar oleh
teman-teman lainnnya di kampus. Panas rasanya hati ini seakan-akan terbakar
oleh api, tak kuasa mendengarnya. Mau gak mau, suka tidak suka aku harus
mengambil pilihan yang sangat sukar untuk dipilih. Huft... daripada aku semakin
tersiksa, finally aku pun berhenti
kuliah. Mau jadi apa aku? Kalau tidak melanjutkan sekolah, kerja pake tenaga
juga gak bakal kuat. Badan sering sakit-sakitan Mau dibawa kemana tubuh ini?
Aku juga ingin menjadi orang sukses, membahagiakan orang tua, dan membuat
mereka merasa bangga. Keputusan ini terpaksa kuambil karena aku dah gak mampu
dan gak sanggup lagi.
Aku pun meminta kepada orang tuaku
untuk kuliah di tempat lain dan memulainya lagi dari awal. Aku berjanji kepada
orang tuaku bahwa aku ingin bersungguh-sungguh kuliah. Ku harap mereka masih
mau untuk menyekolahkanku. Aku gak bilang pada mereka bahwa aku ada masalah. Aku
hanya bilang kalau aku gak mau kuliah di sini karena aku gak suka sama
jurusannya. Mudah-mudahan orang tuaku mau menerima penjelasanku. Aku tahu,
telah banyak uang mereka habis untukku selama dua semester itu, tapi aku gak
tahan lagi berada di sana. Tampaknya kejadian itu sudah tersebar kemana-mana. Aku
merasa, tak hanya dengan satu orang aku di benci, tapi banyak orang. Gak tau
mau ditarok dimana muka ini. Makanya, lebih baik pindah kuliah saja ke
universitas lain. Syukurlah mereka masih mau menyekolahkanku. Aku gak bakal
mengecewakan mereka lagi.
SELESAI