Tampilkan postingan dengan label CERPEN SEDIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN SEDIH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

Cerpen Belum Sempat



BELUM SEMPAT
Cerpen  Fybria Rahma R

Aku tak tahu dimana ganggang pintu itu lagi. Padahal dulu aku sering membuka dan menutupnya. Aku terus meraba-raba dinding dan mencoba mendekat ke arah pintu itu. Pandanganku makin gelap. Apa yang terjadi denganku? Kenapa sekarang aku tak bisa melewatinya? Dulu aku selalu lalu-lalang di sana. Cahaya yang terang dulu kini entah kemana. Dunia telah hilang dari hadapanku seiring hilangnya harapan.
          Tak ada lagi tinta untuk menulis setiap kejadian itu. Meskipun beberapa waktu lalu tinta itu selalu mengukir setiap kejadian dalam hidupku. Ayah, aku tak tahu lagi... Ayah, dari mana akan ku mulai kisah ini? Apakah kau dengarkan ku Ayah? Mengapa ayah? Mengapa bisa terjadi? Hati ini terus-menerus menggerutu.
          Sekonyong-konyong aku terbangun. Mimpi itu mengingatkanku kembali pada masa lalu.
“Dimana ganggang yang dulu? Dimana? Oh... Tuhan... Berikan aku ganggang yang dulu. Aku tak mau yang baru, aku maunya yang dulu.” Hati ini terus merintih. Aku tak kuasa menahannya.
“Nak, di setiap kejadian pasti ada hikmahnya dan kamu harus ikhlas.” Aku terhening mendengar kata-kata yang pernah dilontarkan Ibu dulu. Ku bangunkan suamiku dan menceritakan mimpi itu.
“Jangan terlalu dipikirkan Sri, ntar kamu malah makin drop,” ujar suamiku. Perlahan-lahan aku mulai mencampakkan ingatan yang menggangguku.
          Aku pun menjalani aktivitas seperti biasanya. Esok harinya terulang lagi mimpi yang sama, tetapi kali ini aku menggerutu pada Ibu. Hidup ini memang penuh misteri. Aku selalu mencoba mengerti. Tuhan selalu punya rencana yang tidak sedikitpun diketahui manusia.
          Kembalinya suamiku dari kantor, kami makan malam di rumah. Mendadak sesudah makan malam, suamiku sakit perut dan langsung ke kamar mandi. Tak lama setelah itu sontak mati lampu dan aku sangat kaget. Lima belas menit kemudian ia belum juga keluar dari kamar mandi.
          Aku mulai takut. Siapakah yang makan malam bersamaku tadi? Suamiku atau bukan? Kucari senter, lalu ku hidupkan. Kulihat ke kamar mandi ternyata tak ada orang. Kuhadapkan cahaya senter ke tiap sudut rumah, tetap juga tak ada. Hampir jantungku tak berdegup lagi gara-gara ada sesuatu yang jatuh dihadapanku. Aku terus berteriak memanggil-manggil suamiku. Aku pun panik dan putus asa. Apa yang terjadi pada suamiku? Kurasa yang makan malam dengan ku tadi memang suamiku, bukan orang lain.
Surprise... Happy birthday istriku tercinta. I love you so much...” suara itu nyata dan jelas ku dengar.
          Seseorang muncul dengan badan yang kekar di balik kegelapan. Dialah suamiku. Orang yang selalu ada dikala aku sedih dan susah. Dia yang selalu menemani hari-hariku. Mendengar kata-kata itu hatiku serasa di singgasana. Istana cinta yang dirajut suamiku makin kokoh terasa. Aku tak ingat bahwa ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku. Tepatnya 4 Desember 2004, suamiku memberikan kue ulang tahun berbentuk love yang di dalamnya terdapat tulisan happy birthday sayang, I love you. Dia juga memberiku sekuntum mawar putih.
“Cintaku padamu suci, cintaku padamu tulus karena Allah. Maaf... aku telah mengagetkanmu...” ujar suamiku.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Mulut ini tiba-tiba membungkam. Bersuara tapi tak berbunyi. Ku tatap suamiku sembari berkata “Engkau adalah salah satu pemberian Tuhan yang terindah dalam hidupku,” hatiku dan hatinya telah menyatu. Terima kasih Tuhan.
Jendela itu memberikan cahaya, api itu mengahangatkan jiwa, penguin itu membuatku bahagia. Suamiku telah menjadi pelengkap dalam hidupku. Ia melengkapi semuanya, sehingga tak ada satupun yang membuatku ragu untuk selalu berada di sampingnya. Apapun yang dikatakannya, apapun yang dimarahkannya, semua itu adalah karenaku dan untukku. Jauh di relung hati ini aku sangat mencintainya.
Berawal dari ujian komprehensif, aku menunggu suamiku keluar dari ruang ujian. Tok...tok...tok... terdengar bunyi langkah yang mendekat ke arah ku. Aku mulai deg-degan.
“Sri... Akhirnya aku menggandeng gelar Dr.”
“Alhamdulillah Mas...“
Tahun 2009 suamiku wisuda S-3 di salah satu Universitas Negeri kota Padang. Aku begitu kagum dengannya. Program S-1, S-2, dan S-3 nya diselesaikan selama 6,5 Tahun. Aku juga menyelesaikan studi S-2 ku selama 1,5 Tahun.
Saat wisuda ternyata suamiku lulus dengan predikat yang sangat membanggakan. Aku sungguh bahagia mendengarnya... Hati ini bagaikan pelangi dengan berbagai macam warna mejikuhibiniu yang sangat indah dipandang mata. Aku tak kuasa menahan air mata ini. Air itu jatuh deras dari kelopak mataku.
“Kenapa kamu menangis Sri?”
“Gak ada Mas, aku bahagia.”
Dulu aku tidak boleh menikah terlalu cepat di usia muda belia. Jarak umurku dan suamiku berkisar 3 Tahun. Sebab ia sudah kerja, ia langsung melamar ku setamat SMA.
“Apa kamu yakin akan menikah secepat itu Sri?” tanya ayah.
“Insya Allah yah...” jawabku.
“Jangan terlalu cepat mengambil keputusan Sri, Kamu itu masih sangat muda. Umurmu saja baru 18 Tahun,” sambung ibu.
“Iya Bu... Sri tahu, tetapi mas Andreas kelihatannya orang yang baik Bu, dia serius ingin menjadikanku pendamping hidupnya untuk selamanya.”
“Ya sudah, terserah kamu sajalah.” Gerutu ibu.
Ayah sempat mengurungku di kamar selama lima hari. Mereka hanya memberiku makan satu kali sehari dan mereka tidak memperbolehkanku memegang laptop dan HP. Semua barang-barangku disita ayah dan ibu. Namun, keputusan yang kuambil tetap ku pegang teguh. Sedikitpun tidak mengubah prinsipku untuk menerima lamaran Mas Andreas. Ibu dan Ayah takut menerima lamaran Mas Andreas karena mereka berasal dari keluarga kaya dan bergelar. Tidak sembarang orang yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Aku sempat putus asa karena mengetahui kabar itu. Aku mulai mengerti dengan penjelasan-penjelasan yang dilontarkan Mas Andre, meskipun aku masih ragu. Apakah keluarganya bisa menerimaku? Saat dia datang melamarku, dia tidak langsung meminta jawaban. Ia memberi waktu selama seminggu. Setelah dihukum ayah. Aku diajak Mas Andre ke rumahnya untuk mengetahui kondisi keluarganya. Setibanya di sana, ternyata memang benar bahwa keluarganya sangat terbuka. Walaupun mereka dari kalangan kaya raya, tetapi mereka mudah bersosialisai dengan siapa saja. Mereka menganggap semua orang itu sama derajatnya di hadapan Tuhan. Kembalinya ke rumah, aku berbicara pada Ibu bahwa keluarganya sangat baik padaku.
Ibu dan Ayah mulai sedikit lega setelah mendengar kabar itu, walaupun mereka kelihantannya masih menyimpan rasa curiga terhadap keluarga Mas Andre. Setelah seminggu berlalu, Mas Andre datang lagi ke rumah bersama orang tuanya untuk meminta jawaban lamaran kemarin. Semua pilihan dibebaskan oleh Ibu dan Ayah kepadaku. Semua terserahku. Akhirnya ku terima lamaran tersebut.
Pada saat wisuda S-1 Mas Andreas aku mengajak orang tuaku untuk pergi ke acara tersebut. Supaya Ibu dan Ayah juga saling bertemu dan berkenalan dengan keluarga Mas Andre. Aku berusaha membuat hubungan mereka menjadi lebih akrab. Hujan berganti panas. Muka yang muram kembali cerah. Siangpun berganti malam. Malam ini keluargaku dan keluarga Mas Andre telah menentukan tanggal pernikahan kami.
Seminggu berlalu, sepulang mengantarkan undangan “Brak!!!” tiba-tiba terdengar bunyi yang sayup-sayup sampai ke rumah. Di perempatan jalan raya ternyata telah terjadi kecelakaan mobil sedan dan Fuso. Fuso dari ketinggian empat kaki meluncur dengan kecepatan 100km/jam. Pengemudi fuso ini diduga mabuk berat saat berkendara. Aku berlari secepat-cepatnya tanpa sandal, tak terasa lagi sakitnya kaki karena menginjak kerikil. Aku melihat orang tuaku bersimbah darah. Darahnya membasahi jalan. Nyawanya tak dapat tertolong lagi. Hanya dengan hitungan detik semua telah berakhir dengan sekejap. Kisah ini sungguh membuat hatiku gundah-gulana. Bagaimana aku akan melangsungkan pernikahan? Kalau keadaan hatiku seperti ini. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah secepat itu Tuhan mencabut nyawa umatnya? Ya... Tuhan... Kenapa tepat di depan mataku kau ambil nyawa mereka?
Undangan sudah tersebar kemana-mana. Baju pernikahan sudah dipesan juga. Ditambah lagi dengan gedung dan katering sudah dipersiapkan. Semua itu sangat membuatku stres. Tetapi aku harus profesional, aku harus tetap menjalani hidup. Akhirnya pesta itu tetap berlangsung dengan keadaan yang penuh duka.
Kenapa ayah dan ibu meninggalkanku? Aku tak sanggup. Tanpa kusadari suamiku selalu berusaha membuatku tersenyum. Tapi hanya uraian air mata yang menemaniku setiap hari. Dokter pernah bilang bahwa jangan terus-menerus bersedih hingga menahan air mata dan sering mengeluarkan air mata. Air mata itu panas dan asin. Kalau selalu menangis nanti mata itu rusak. Hati ini berbanding terbalik dengan perkataan dokter. Aku terpeleset di ruang tamu. Kepalaku terbentur ke sudut meja. Mujur saja tidak berdarah, aku merasakan pusing yang yang sangat hebat dan mata ini perih terasa. Aku langsung berdiri, aku melihat pintu. Pintu itu terlihat buram, mulai tak tampak. Ku tatap ke sana kemari pun tak kelihatan. Semua menjadi kelam. Setelah 7 tahun pernikahanku dengannya, sekarang malah begini kejadiannya.
Padahal aku dulu bisa melihat semuanya di dunia, melihat semua keindahan dunia. Tapi sekarang apa? Aku malah tak bisa melihat apapun. Aku tak bisa lagi melayani suamiku, aku tak bisa memasakkannya lagi, aku tak bisa membahagiakannya, aku tak bisa memberinya minum. Aku terus jadi beban bagi suamiku. Aku selalu melemparkan kata-kata cerai dan makian kepadanya, tapi ia pura-pura tak mendengarnya.
Suamiku terus mencari donor mata untukku. Akhirnya ada dan aku dioperasi. Tapi hasilnya gagal. Aku tak bisa lagi melihat wajah suamiku. Lima tahun berlalu, sekarang aku lupa bagaimana wajahnya. Bagaimana raut wajahnya, bagaimana rambutnya, bagaimana postur tubuhnya? Aku malah membuatnya semakin terluka dengan keadaanku. Aku memang tidak berguna.
Peristiwa itu masih sangat jelas olehku sampai saat ini. Kemana akan kucari ganggang pintu tersebut? Kemana? Aku tak bisa lagi mencarinya, aku tak bisa lagi melihatnya, aku tak bisa lagi melewatinya... Mimpi itu selalu hadir dalam hidupku dan selalu mengingatkanku pada peristiwa dulu. Panas kembali berganti hujan. Cahaya terang kembali kelam. Wajah kian suram. Tak tahu lagi mana yang siang dan malam. Semua menjadi malam buta bagiku. Lantunan lagu Agnes Monica yang berjudul Rapuh selalu menemani hari-hariku “Belum sempat ku membagi kebahagiaanku, belum sempat ku membuat dia tersenyum, haruskah ku kehilangan? Ku rapuh tanpa dia, seperti kehilangan hara.”

SELESAI