BELUM
SEMPAT
Cerpen Fybria Rahma R
Aku tak
tahu dimana ganggang pintu itu lagi. Padahal dulu aku sering membuka dan
menutupnya. Aku terus meraba-raba dinding dan mencoba mendekat ke arah pintu
itu. Pandanganku makin gelap. Apa yang terjadi denganku? Kenapa sekarang aku
tak bisa melewatinya? Dulu aku selalu lalu-lalang di sana. Cahaya yang terang
dulu kini entah kemana. Dunia telah hilang dari hadapanku seiring hilangnya
harapan.
Tak
ada lagi tinta untuk menulis setiap kejadian itu. Meskipun beberapa waktu lalu
tinta itu selalu mengukir setiap kejadian dalam hidupku. Ayah, aku tak tahu
lagi... Ayah, dari mana akan ku mulai kisah ini? Apakah kau dengarkan ku Ayah?
Mengapa ayah? Mengapa bisa terjadi? Hati ini terus-menerus menggerutu.
Sekonyong-konyong
aku terbangun. Mimpi itu mengingatkanku kembali pada masa lalu.
“Dimana
ganggang yang dulu? Dimana? Oh... Tuhan... Berikan aku ganggang yang dulu. Aku
tak mau yang baru, aku maunya yang dulu.” Hati ini terus merintih. Aku tak
kuasa menahannya.
“Nak, di setiap
kejadian pasti ada hikmahnya dan kamu harus ikhlas.” Aku terhening mendengar
kata-kata yang pernah dilontarkan Ibu dulu. Ku bangunkan suamiku dan
menceritakan mimpi itu.
“Jangan
terlalu dipikirkan Sri, ntar kamu malah makin drop,” ujar suamiku. Perlahan-lahan aku mulai mencampakkan ingatan
yang menggangguku.
Aku
pun menjalani aktivitas seperti biasanya. Esok harinya terulang lagi mimpi yang
sama, tetapi kali ini aku menggerutu pada Ibu. Hidup ini memang penuh misteri.
Aku selalu mencoba mengerti. Tuhan selalu punya rencana yang tidak sedikitpun
diketahui manusia.
Kembalinya
suamiku dari kantor, kami makan malam di rumah. Mendadak sesudah makan malam,
suamiku sakit perut dan langsung ke kamar mandi. Tak lama setelah itu sontak
mati lampu dan aku sangat kaget. Lima belas menit kemudian ia belum juga keluar
dari kamar mandi.
Aku
mulai takut. Siapakah yang makan malam bersamaku tadi? Suamiku atau bukan?
Kucari senter, lalu ku hidupkan. Kulihat ke kamar mandi ternyata tak ada orang.
Kuhadapkan cahaya senter ke tiap sudut rumah, tetap juga tak ada. Hampir
jantungku tak berdegup lagi gara-gara ada sesuatu yang jatuh dihadapanku. Aku
terus berteriak memanggil-manggil suamiku. Aku pun panik dan putus asa. Apa
yang terjadi pada suamiku? Kurasa yang makan malam dengan ku tadi memang
suamiku, bukan orang lain.
“Surprise... Happy birthday istriku
tercinta. I love you so much...”
suara itu nyata dan jelas ku dengar.
Seseorang
muncul dengan badan yang kekar di balik kegelapan. Dialah suamiku. Orang yang
selalu ada dikala aku sedih dan susah. Dia yang selalu menemani hari-hariku.
Mendengar kata-kata itu hatiku serasa di singgasana. Istana cinta yang dirajut
suamiku makin kokoh terasa. Aku tak ingat bahwa ternyata hari ini adalah hari
ulang tahunku. Tepatnya 4 Desember 2004, suamiku memberikan kue ulang tahun
berbentuk love yang di dalamnya
terdapat tulisan happy birthday sayang, I love you. Dia juga memberiku
sekuntum mawar putih.
“Cintaku
padamu suci, cintaku padamu tulus karena Allah. Maaf... aku telah mengagetkanmu...”
ujar suamiku.
Aku tak
tahu lagi harus berkata apa. Mulut ini tiba-tiba membungkam. Bersuara tapi tak
berbunyi. Ku tatap suamiku sembari berkata “Engkau adalah salah satu pemberian
Tuhan yang terindah dalam hidupku,” hatiku dan hatinya telah menyatu. Terima
kasih Tuhan.
Jendela itu
memberikan cahaya, api itu mengahangatkan jiwa, penguin itu membuatku bahagia.
Suamiku telah menjadi pelengkap dalam hidupku. Ia melengkapi semuanya, sehingga
tak ada satupun yang membuatku ragu untuk selalu berada di sampingnya. Apapun
yang dikatakannya, apapun yang dimarahkannya, semua itu adalah karenaku dan
untukku. Jauh di relung hati ini aku sangat mencintainya.
Berawal
dari ujian komprehensif, aku menunggu suamiku keluar dari ruang ujian.
Tok...tok...tok... terdengar bunyi langkah yang mendekat ke arah ku. Aku mulai
deg-degan.
“Sri...
Akhirnya aku menggandeng gelar Dr.”
“Alhamdulillah
Mas...“
Tahun 2009
suamiku wisuda S-3 di salah satu Universitas Negeri kota Padang. Aku begitu
kagum dengannya. Program S-1, S-2, dan S-3 nya diselesaikan selama 6,5 Tahun.
Aku juga menyelesaikan studi S-2 ku selama 1,5 Tahun.
Saat wisuda
ternyata suamiku lulus dengan predikat yang sangat membanggakan. Aku sungguh bahagia
mendengarnya... Hati ini bagaikan pelangi dengan berbagai macam warna
mejikuhibiniu yang sangat indah dipandang mata. Aku tak kuasa menahan air mata
ini. Air itu jatuh deras dari kelopak mataku.
“Kenapa
kamu menangis Sri?”
“Gak ada
Mas, aku bahagia.”
Dulu aku
tidak boleh menikah terlalu cepat di usia muda belia. Jarak umurku dan suamiku
berkisar 3 Tahun. Sebab ia sudah kerja, ia langsung melamar ku setamat SMA.
“Apa kamu
yakin akan menikah secepat itu Sri?” tanya ayah.
“Insya Allah
yah...” jawabku.
“Jangan
terlalu cepat mengambil keputusan Sri, Kamu itu masih sangat muda. Umurmu saja
baru 18 Tahun,” sambung ibu.
“Iya Bu...
Sri tahu, tetapi mas Andreas kelihatannya orang yang baik Bu, dia serius ingin
menjadikanku pendamping hidupnya untuk selamanya.”
“Ya sudah,
terserah kamu sajalah.” Gerutu ibu.
Ayah sempat
mengurungku di kamar selama lima hari. Mereka hanya memberiku makan satu kali
sehari dan mereka tidak memperbolehkanku memegang laptop dan HP. Semua barang-barangku
disita ayah dan ibu. Namun, keputusan yang kuambil tetap ku pegang teguh. Sedikitpun
tidak mengubah prinsipku untuk menerima lamaran Mas Andreas. Ibu dan Ayah takut
menerima lamaran Mas Andreas karena mereka berasal dari keluarga kaya dan
bergelar. Tidak sembarang orang yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Aku sempat
putus asa karena mengetahui kabar itu. Aku mulai mengerti dengan
penjelasan-penjelasan yang dilontarkan Mas Andre, meskipun aku masih ragu.
Apakah keluarganya bisa menerimaku? Saat dia datang melamarku, dia tidak
langsung meminta jawaban. Ia memberi waktu selama seminggu. Setelah dihukum
ayah. Aku diajak Mas Andre ke rumahnya untuk mengetahui kondisi keluarganya.
Setibanya di sana, ternyata memang benar bahwa keluarganya sangat terbuka. Walaupun
mereka dari kalangan kaya raya, tetapi mereka mudah bersosialisai dengan siapa
saja. Mereka menganggap semua orang itu sama derajatnya di hadapan Tuhan.
Kembalinya ke rumah, aku berbicara pada Ibu bahwa keluarganya sangat baik
padaku.
Ibu dan
Ayah mulai sedikit lega setelah mendengar kabar itu, walaupun mereka
kelihantannya masih menyimpan rasa curiga terhadap keluarga Mas Andre. Setelah
seminggu berlalu, Mas Andre datang lagi ke rumah bersama orang tuanya untuk
meminta jawaban lamaran kemarin. Semua pilihan dibebaskan oleh Ibu dan Ayah
kepadaku. Semua terserahku. Akhirnya ku terima lamaran tersebut.
Pada saat
wisuda S-1 Mas Andreas aku mengajak orang tuaku untuk pergi ke acara tersebut.
Supaya Ibu dan Ayah juga saling bertemu dan berkenalan dengan keluarga Mas
Andre. Aku berusaha membuat hubungan mereka menjadi lebih akrab. Hujan berganti
panas. Muka yang muram kembali cerah. Siangpun berganti malam. Malam ini
keluargaku dan keluarga Mas Andre telah menentukan tanggal pernikahan kami.
Seminggu
berlalu, sepulang mengantarkan undangan “Brak!!!” tiba-tiba terdengar bunyi
yang sayup-sayup sampai ke rumah. Di perempatan jalan raya ternyata telah
terjadi kecelakaan mobil sedan dan Fuso. Fuso dari ketinggian empat kaki
meluncur dengan kecepatan 100km/jam. Pengemudi fuso ini diduga mabuk berat saat
berkendara. Aku berlari secepat-cepatnya tanpa sandal, tak terasa lagi sakitnya
kaki karena menginjak kerikil. Aku melihat orang tuaku bersimbah darah.
Darahnya membasahi jalan. Nyawanya tak dapat tertolong lagi. Hanya dengan
hitungan detik semua telah berakhir dengan sekejap. Kisah ini sungguh membuat
hatiku gundah-gulana. Bagaimana aku akan melangsungkan pernikahan? Kalau
keadaan hatiku seperti ini. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah secepat itu Tuhan
mencabut nyawa umatnya? Ya... Tuhan... Kenapa tepat di depan mataku kau ambil
nyawa mereka?
Undangan
sudah tersebar kemana-mana. Baju pernikahan sudah dipesan juga. Ditambah lagi
dengan gedung dan katering sudah dipersiapkan. Semua itu sangat membuatku stres.
Tetapi aku harus profesional, aku harus tetap menjalani hidup. Akhirnya pesta
itu tetap berlangsung dengan keadaan yang penuh duka.
Kenapa ayah
dan ibu meninggalkanku? Aku tak sanggup. Tanpa kusadari suamiku selalu berusaha
membuatku tersenyum. Tapi hanya uraian air mata yang menemaniku setiap hari.
Dokter pernah bilang bahwa jangan terus-menerus bersedih hingga menahan air
mata dan sering mengeluarkan air mata. Air mata itu panas dan asin. Kalau
selalu menangis nanti mata itu rusak. Hati ini berbanding terbalik dengan
perkataan dokter. Aku terpeleset di ruang tamu. Kepalaku terbentur ke sudut
meja. Mujur saja tidak berdarah, aku merasakan pusing yang yang sangat hebat
dan mata ini perih terasa. Aku langsung berdiri, aku melihat pintu. Pintu itu
terlihat buram, mulai tak tampak. Ku tatap ke sana kemari pun tak kelihatan.
Semua menjadi kelam. Setelah 7 tahun pernikahanku dengannya, sekarang malah
begini kejadiannya.
Padahal aku
dulu bisa melihat semuanya di dunia, melihat semua keindahan dunia. Tapi
sekarang apa? Aku malah tak bisa melihat apapun. Aku tak bisa lagi melayani
suamiku, aku tak bisa memasakkannya lagi, aku tak bisa membahagiakannya, aku
tak bisa memberinya minum. Aku terus jadi beban bagi suamiku. Aku selalu
melemparkan kata-kata cerai dan makian kepadanya, tapi ia pura-pura tak
mendengarnya.
Suamiku
terus mencari donor mata untukku. Akhirnya ada dan aku dioperasi. Tapi hasilnya
gagal. Aku tak bisa lagi melihat wajah suamiku. Lima tahun berlalu, sekarang
aku lupa bagaimana wajahnya. Bagaimana raut wajahnya, bagaimana rambutnya,
bagaimana postur tubuhnya? Aku malah membuatnya semakin terluka dengan
keadaanku. Aku memang tidak berguna.
Peristiwa
itu masih sangat jelas olehku sampai saat ini. Kemana akan kucari ganggang
pintu tersebut? Kemana? Aku tak bisa lagi mencarinya, aku tak bisa lagi
melihatnya, aku tak bisa lagi melewatinya... Mimpi itu selalu hadir dalam
hidupku dan selalu mengingatkanku pada peristiwa dulu. Panas kembali berganti
hujan. Cahaya terang kembali kelam. Wajah kian suram. Tak tahu lagi mana yang
siang dan malam. Semua menjadi malam buta bagiku. Lantunan lagu Agnes Monica
yang berjudul Rapuh selalu menemani hari-hariku “Belum sempat ku membagi
kebahagiaanku, belum sempat ku membuat dia tersenyum, haruskah ku kehilangan?
Ku rapuh tanpa dia, seperti kehilangan hara.”
SELESAI
menyedihkan....... :(
BalasHapusThank you...
Hapus